Short Getaway (Part 1)

Sebagai seorang perempuan yang nyaris berumur 21 tahun dan sebentar lagi lulus (yang harusnya ngerjain TA bukan malah nulis ini), cukup telat memang baru merasakan pergi ke negeri orang. Kemudian perjalanan ke Hong Kong kemarin patut aku tulis di sini agar nantinya aku bisa mengingat kembali momen ini.

Perjalanan ke luar negeri ini sebenarnya untuk menunaikan tugas kuliah Cross Cultural and Conflict Management yang tujuannya untuk memahami lebih lanjut mengenai conflict management dengan praktik langsung di negeri orang. Ada dua pilihan negara : Bangkok atau Hong Kong. Ada juga deng yang di Indonesia. Shortly, I choose Hong Kong. 

Planning awal mengenai trip ini sangat mulus. Lengkap dengan itinerary yang ku buat untuk berlima (Saya, Nadia, Adel, Dita, dan Tami). Tidak pernah ada pembagian tugas yang clear karena basis kita adalah basis pertemanan bukan perusahaan, namun urusan tiket pesawat dan penginapan itu Adel yang urus, urusan tujuan wisata dan lokasi itu aku yang mengurus dan urusan dokumentasi itu Mbadit (panggilan dita sejak tingkat 1, unik padahal dia lebih muda dari gue) yang urus.

Namun bukan perjalanan yang seru dan wajib dimasukan dalam blog ini kalau semuanya berjalan sesuai rencana. Bahkan dari sebelum berangkat kami sudah mendapat masalah:


Tiket kami dinyatakan pembayarannya belum lunas dan tidak bisa digunakan. 

Jeng Jeng.

Panik dong. Panik lah. Harusnya jadwal flight kita besok jam 5 pagi tapi kita baru mengetahui masalah ini jam 1 siang. Fyi kami membeli tiket pesawat dari sebuah agen yang kami temui di instagram karena menawarkan promo tiket murah. Alhasil, panik kami berujung amarah dengan memborbardir si agen travel dengan puluhan telpon dan juga ribuan chat. Gak diangkat juga.

Setelah dua jam dipenuhi rasa cemas, akhirnya mas travel ini merespon chat dan malah ikutan panik. Nah iya, kita juga bingung kenapa dia ikutan panik harusnya dia yang tanggung jawab. Akhirnya dia berusaha tanggung jawab dengan mengatakan agar mengurusnya. Malamnya seusai nonton film Kartini (iya masih sempet nonton karena gamau pikirannya dibebankan mikirin gituan dan lagipula dibayarin ibuk hehe) mas nya respon.

Oiya sedikit cerita pendukung agar tidak bingung.
Trip ini diikuti seluruh mahasiswa kelas CCCM dan untuk urusan keberangkatan dan penginapan disana itu urusan masing-masing mahasiwa. Jadi yang menggunakan travel agent ini ada 14 orang yang masing-masing grupnya beda jadwal penerbangan. 8 orang lainnya sudah berangkat dan tersisa 6 orang yaitu kami yang memang sepaket (tami beda flight dengan kita) ditambah Haikal dan Evan. Karena kita dianggap satu rombongan sama mas-mas travel akhirnya kita berenam jadi sepaket. Dan yang tau mengenai masalah ini terlebih dahulu adalah aku, nadia, dan adel. Mbadit, Haikal, Evan tau ketika masalah sudah nyaris beres. 


Mas travel atau yang nantinya bakal saya sebut mase2 respon dan memberikan kabar kalau kita semua akan pindah airlines. Lalu mase2 nya membalas chat dengan sepotong2 yang buat kita panik.




"Mbak, yang tiga udah dapet kode booking di MH, nanti transit malaysia ya"
"Yang atas nama Arifah, Adlya, dan Nadia"

Waduh, kok baru tiga doang ya, mbadit evan haikal gimana dong. 


--Jeda satu jam--


"Mbak yang tiga lagi ga dapet MH"

HAH trus gimana ya kali masa mereka ga berangkat. Duh gimana dong 

"Tapi mereka dapetnya Garuda, direct" 
AS@3#S374JSN


Pada akhirnya kita pisah flight dan bisa sampai di Hong Kong dengan selamat sentosa disambut oleh Tami yang memang sudah di sana sejak beberapa hari lalu. Hari pertama kita habiskan untuk beristirahat dan mencari makanan.


Tapi, masalah ga cuman berhenti disitu.

Jeng Jeng.

Bahkan ketika kita (finally) menginjakan kaki di bandara Hong Kong, Nadia yang baru saja menyalakan hp nya langsung bertanya kepada aku dan Adel yang sedang mengobrol.


"Eh ini tiket disneyland, kenapa?"


...



Muka bahagia "akhirnya nyampe juga di hongkong"





Comments

Popular Posts