Final year thought

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, seperti khalayak umum, saat ini saya sedang dalam tahap mengerjakan tugas akhir yang bebannya 6 sks tapi menentukan kelulusan dari dunia perkuliahan yang sudah saya jalani selama kurang lebih 3 tahun ini. Sebelum mengerjakannya bahkan saya sudah tau bakal sesusah apa itu TA dan bakal se-stress apa mengerjakanya dari beberapa jokes yang kerap muncul atau warning dari kating dan para tutor. Negative vibes comes around the word of TA. 

He, sebenernya bukan mau bahas itu. Mau bahas stres nya aja sih. Pernahkah gak sih kalian merasa stres yang sampai kalian merasa denial kalo kalian stres? 

Tahun lalu, tugas terberat kuliah saya tentunya adalah IBE (integrated business experience) yang intinya adalah praktik membuat bisnis dan saya kebetulan diamanahkan menjadi seorang CEO (dipilih secara paksa sih, hehe gak ding). Stres? harusnya. Tapi entah kenapa saya merasa saya tidak stres sampai orang-orang yang mengatakan itu kepada saya. Suatu waktu saya jatuh sakit yang saya pikir hanya sakit flu biasa yang memang saya alami setiap pagi ketika kedinginan. Namun, itu berlangsung berhari-hari sampai saya memutuskan untuk menggunakan satu hari istirahat. Apa reaksi orang saat saya sakit? 
"Kamu stres kali fah" 
"Kecapekan tuh".
funny thing, saya sama sekali gak merasa stres ataupun kecapekan. Memang menguras otak dan rasanya kepala mau meledak ketika ada masalah bertubi-tubi yang tak kunjung selesai. Namun, anehnya saat saya merasa sakit saya sedang tidak dalam deadline atau sedang menjalani masalah yang membuat saya bingung. 

Kejadian yang sama juga terulang di semester lalu, di tugas kuliah Strategic Management yang tugas kelompoknya menghasilkan buku setebal buku teks finance management. Iya setebel itu. Mengerjakannya siang malam, belum lagi masih ada banyak tugas kleompok kecil lainnya yang tugasnya tidak pernah berhenti mengalir. Lagi-lagi saya 'diklaim' stres oleh orang lain, dan kali ini keluarga sendiri. Saya sendiri tidak merasakan hal yang sama. Oiya ditambah lagi, saya merasakan sakitnya PMS yang luar biasa dan kebanyakan orang mengatakan ini tanda-tanda stres. 


Kejadian yang (lagi-lagi) sama terjadi seminggu terakhir ini. Saya masuk angin. LOL. Cukup lawak memang, tapi saya masuk angin yang bahkan berpengaruh pada sakitnya punggung saya tepat sebelum bimbingan sehingga saya harus menahan sakitnya selama kurang lebih 3 jam (bimbingan terlama karena bimbingan terdiri dari 3 orang). Sakit punggung yang lumayan membatasi pergerakan saya mengurungkan niat saya untuk kuliah di esok harinya. Setelah didiagnosa oleh bu nonon, tukang pijat yang namanya sudah terkenal seantero Dago Asri dan sekitarnya, saya masuk angin. Entah didasari oleh hipotesis dari mana. Dua bulan terakhir ini siklus datang bulan saya juga mulai tidak menentu padahal sudah satu tahun terakhir mulai memiliki jadwal tetap. Lagi-lagi merupakan tanda stres kalau kata ibu. 

Lalu pada akhirnya saya berpikir setelah melihat ke belakang kejadian-kejadian ini. Apakah iniyang namanya stres tingkat tinggi hingga pada akhirnya diri kamu sendiri menyangkal bahwa kamu stres? Tapi satu yang masih saya syukuri, untungnya belum sampai ke depresi yang merupakan penyakit jiwa berbahaya dan saya masih dikelilingi orang-orang yang saya sayangi yang selalu support satu sama lain. Dengan kata lain, senasib. 

Oke, inti dari post ini untuk mengingatkan kalian jangan lupa senyum dan bahagia, karena kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan tinggal di dunia. 


Comments

  1. Aa, semangat untuk kita yang sedang memperjuangkan Tugas Akhir!!! :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu iya kak silmii kita harus semangat ngerjain TA demi lulus!!!

      Delete

Post a Comment

Popular Posts