Bandung

Terinspirasi dari guest lecture yang diadakan jumat lalu dan sebuah blog milik seorang teman lama yang tak secara sengaja aku* baca membuat aku kembali membuka blog yang sudah lama tidak memiliki sesuatu yang baru, yang sudah lama (mungkin) merindukan pemiliknya.

*) untuk keperluan cerita ini maka post ini kata pertama akan berubah dari "gue" menjadi "aku")

Kali ini blog ini akan diisi oleh sesuatu yang berarti untukku , tentang suatu kota yang berhasil membuat aku jatuh cinta, kota yang tadinya kota biasa yang hanya aku kunjungi menjadi kota di mana aku bisa mengembangkan diri,



Kota Parahyangan,
Bandung.

Aku mengenal kota ini dari kecil. Bandung memang jadi tujuan wisata penduduk jakarta dan sekitarnya yang sudah penat dengan hiruk pikuk dan udara yang dipenuhi dengan asap kendaraan. Ayah ku sering mengajak kita sekeluarga untuk berkunjung ke bandung hBandanya sekedar untuk berjalan-jalan sambil menyambung silaturrahmi dengan adik dari ayahku.

Bandung hanyalah sekedar kota wisata bagiku saat itu.
-Bandung saat itu masih menjadi kota yang penuh dengan sampah, yang rumornya memiliki "gunung sampah" di beberapa sudutnya. Saat itu juga yang berada di ingatanku sampai saat ini,m Bandung dipenuhi pengemis dan pengamen yang begitu banyaknya 'berkeliaran' di pintu tol pasteur seakan sebagai 'sambutan' bagi para wisatawan.

Di saat sibuk mengurus tahun terakhir di SMP, kakak ku yang juga akan melanjutkan ke jenjang kuliah memilih Bandung sebagai tempat menimba ilmu. Sebagai persiapan, dia mengikuti les agar bisa lolos tes menuju kampus impiannya, namun dia memilih tempat les di Bandung, lebih bagus katanya. Biar bisa latihan dulu kost di bandung dulu katanya. Orang tua ku mengizinkan, namun tidak biasa melihat putri sulungnya tinggal di kota lain membuat orang tua ku dan tentunya aku untuk mengunjunginya setiap minggu. Iya, setiap weekend kami ke bandung. Rutinitas setiap weekend ke Bandung membuat kami kehabisan tujuan wisata, dan pada akhirnya kami pun lebih sering menyisiri kota Bandung hanya sekedar berkeliling naik mobil dan mengunjungi tempat-tempat ayahku dulu. Ayahku adalah seorang lulusan universitas di Bandung dan dia menghabiskan lebih dari 8 tahun di Bandung. Tak heran dia hafal betul dengan jalanan kota Bandung.

Kini Bandung menjadi tempat ayahku menghabiskan masa mudanya di mataku.
-Bandung saat itu mulai saat itu mulai terkenal dengan factory outlet yang menyuguhkan baju-baju yang cukup stylish. Bandung juga sudah mulai membaik dengan isu sampah yang pernah aku dengar saat kecil

Beranjak SMA, kota Bandung makin terasa begitu jauh. Kesibukan SMA membuat ayah ku menjadi tidak memiliki alasan lagi untuk mengajak kedua anaknya yang sudah sibuk dengan kehidupan kuliah dan SMA (Ternyata takdir kakak ku adalah untuk berkuliah di universitas dekat rumah, si kampus kuning) Hanya sesekali kami pergi ke Bandung hanya untuk menghadiri acara keluarga, seperti ketika sepupu ku menikah.

Bandung hanya sebagai kota sebelah di mataku
-Bandung menjadi kota yang terkenal dengan kemacetannya saat adanya long weekend, mobil berplat B bukan lagi suatu yang asing. Lembang pun menjadi kota tujuan wisata yang banyak dituju.


Tahun terakhir SMA, saatnya menentukan pilihan untuk melanjutkan pembelajaran. Dengan penuh keyakinan dan tekad bulat aku ingin menjadi mahasiswa kampus kuning. Namun di setiap rencana yang kita tulis pastinya kita membuat rencana kedua. Membuat pilihan kedua merupakan hal sulit yang dilakukan. Sampai pada akhirnya tanpa berpikir panjang aku mengikuti keinginan kedua orang tua ku yang diiringi persuasi yang diberikan kakak ku dalam memilih pilihan kedua.

Lagi-lagi takdir berkata lain, aku harus menjalani rencana cadanganku, pilihan keduaku, untuk kuliah di ITB.


Semenjak menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan anak kost di Bandung banyak hal yang merubah persepsiku mengenai bandung.
Bandung berhasil membuatku jatuh cinta dengan udaranya yang sejuk dan kadang membuatku flu, penduduk yang ramah dan juga suka membantu, tukang angkot yang tidak pernah membuat ku tersesat apalagi disaat aku masih belum hafal dengan jalanan kota bandung angkot di bandung juga cukup aman (aku pernah pulang naik angkot jam setengah 2 pagi!), Braga di malam hari yang ramai dengan hingar-bingar namun bangunan braga yang kuno terlihat indah di malam hari, alun-alun yang masjidnya sangat besar dan sempat membuatku bingung harus sholat dimana (ya, aku pernah melihat terdapat beberapa jamaah di satu masjid) namun lapangan rumputnya yang meskipun sintetis, duduk disitu terasa nyaman sambil menikmati udara bandung dan suara kendaraan yang ramai jika malam minggu, punclut yang menyuguhkan lesehan sederhana dengan pemandangan city lights, Cafe dengan konsep yang menarik dan menawarkan makanan yang enak tiada habisnya di kota Bandung, Cikapundung dengan air mancur yang warna-warni diiringi dengan lantunan musik dari pengamen jalanan yang menurutku sudah pro (suara pengamen jalanan yang merdu serta pronounciation dalam lagu luar membuatku bertanya-tanya mengapa mereka hanya menjadi pengamen), wisata kuliner yang semakin malam semakin banyak kuliner yang bisa dieksplor, dari warung menjual perkedel yang antriannya seperti antri sembako (hanya untuk beli perkedel! gila bukan?) nasi goreng bistik yang letaknya membuat ku berkali-kali nyasar setiap kesana, bola ubi yang bisa membuat khilaf jika bm tengah malam, taman-taman kota yang dibuat oleh walikota tereksis di instagram juga menjadi tempat tujuan, oiya dan tidak lupa dengan tempat tujuan wisata di bandung yang tidak ada habisnya: Bukit moko dengan pemandangan kota bandung dari atas, Tebing keraton dengan tebingnya yang cukup eksis di media sosial, Stone Garden, Dusun Bambu Lembang, Floating Market, Situ Patenggang, Kawah Putih, dan masih banyak lagi.

Kini Bandung menjadi kota yang aku impikan untuk menjadi tempatku menghabiskan masa tua ku.















Comments

Popular Posts