miris


mi·ris
was-was; risau; cemas

itu yang gue rasain akhir-akhir ini. entah karena perkataan seseorang atau dengan melihat dengan mata kepala gue sendiri.

Jadi waktu senin kemaren, ubers  dapet giliran jadi petugas upacara, gue bertugas menjadi pembawa acara bersama kincy. Dengan latihan yang dadakan, kita cukup berhasil. Tapi pas pertengahan upacara, gue yang berdiri dekat dengan pintu pembatas antara lio dan smansa, denger anak kecil yang teriak-teriak. Teriakan mereka cukup annoy, di tambah dengan suara gebrakan pintu dari mereka. Dan mereka sempat meneriakan kalimat yang membuat gue cukup miris.

"Kaaak! Mau sekolah kakk!!!"
miris kan? 
Di saat gue lagi bete ikut upacara pengibaran bendera di smansa, di situ ada anak kecil yang ingin sekolah, ingin berdiri di tempat gue. Meskipun gue gak tau dia itu ngomongnya bercanda atau gimana, tapi pas denger kalimat sederhana dari seorang anak kecil itu gue langsung termenung. 
***

Suatu sore pas anak-anak strada lagi heboh ngomongin study tour35 yang penuh kontroversial, gue cukup denger perkataan beberapa orang yang cukup membuat hati gue terketuk. Ya, salah satu penyebab mengapa studytour ini penuh pro kontra adalah masalah biaya. Salah satu diantara mereka yang rata-rata gak ikut study tour bilang gini,
"Gak ah, gue udah banyak minta tapi gak banyak ngasih juga"
gue langsung kaget. Mereka aja sampai berpikir kayak gitu. Trus lo kemana aja a? Lo udh ngasih apa aja ke orangtua lo? Pikiran itu yang berkecamuk di kepala gue, pas denger perkataan temen gue ini. Dan membuat gue sadar juga, temen-temen gue udah cukup dewasa.. Memang bukanlah umur yang menentukan kedewasaan kita, namun sikap yang menentukan:)
***

Selasa kemaren ubers ulangan sejarah dengan sok enjoy. Ngisi missing lyrics lagu 'kemaren paman datang' dan heboh karena foto pak presiden di kelas hilang! Setelah ulangan tersisa beberapa menit sebelum bel, Bu zarni membuat kita berdiskusi bersama-sama. Berdiskusi
masalah utama di Indonesia yang sedang hangat-hangatnya. Banjir. Banjir yang cukup melumpuhkan Jakarta, Ibu kota Tanah Air tercinta. Bu zarni bertanya bagaimana jika Jakarta benar-benar tenggelam? Ketika semua orang berharap itu gak akan kejadian, bu Zarni malah mengatakan,

"Loh, ini bukan negative thinking, tapi mencoba berpikir secara logis. Kalo pertanyaan ini terus diabaikan. Apa yang kita lakukan kalau sudah kejadian?"
Bener juga. Kita selalu menghindari pertanyaan negative thinking dan mencoba positive thinking. Bener sihh positive thinking, tapi ini kan namanya persiapan ke semua kejadian terburuknya. Gak cuman masalah Jakarta yang akan tenggelam, tapi masalah lainnya. Bu Zarni cukup membuat gue berpikir. 

***







p.s : semua quotes yang gue ambil, gak persis kayak gitu kalimatnyayang mereka ucapin (soalnya gue lupa) tapi intinya sama :)

Comments

Popular Posts